Cerpen:
Wayan Sunarta
Akhirnya aku kembali ke tempat ini. Aku tidak bisa menahan perasaanku
untuk tidak menemuinya lagi. Aku hanya ingin melihatnya dari jarak yang
agak jauh, dari tempat yang agak terlindung. Dari balik malam, dengan
leluasa aku bisa melihatnya tertawa dan tersenyum - tawa dan senyum yang
dibuat-buat - di hadapan para tamu. Tempat dia duduk menunggu tamu cukup
terang bagi mataku, meski tempat itu hanya ditaburi cahaya merah yang redup. Aku
masih bisa merasakan pancaran matanya yang pedih. Aku merasa dia sedang
memperhatikan aku. Aku berusaha bersembunyi di balik kerumunan para
pengunjung yang berseliweran di luar ruang.Tapi sejenak aku ragu, apakah benar
dia melihatku? Ah, jangan-jangan itu hanya perasaanku saja. Aku yakin
dia kecewa dengan aku. Dia kecewa karena aku gagal membawanya pergi dari
tempat ini. Hampir setiap malam aku mengunjungi tempat ini hanya untuk
melihatnya dari kegelapan dan memastikan dia baik-baik saja. Aku seperti
mata-mata yang sedang mengintai mangsanya. Atau mungkin aku seorang
pengecut yang tidak berani menunjukkan batang hidung setelah kegagalan yang
menyakitkan hatiku. Atau bisa jadi aku telah menjadi pecundang dari
kenyataan pahit ini.





- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact